Home » Balita » Ucapan-Ucapan Ajaib Ini Harus Anak Dengar Dari Orangtua, Kenapa Ya?
Ucapan positif orangtua pada anak

Ucapan-Ucapan Ajaib Ini Harus Anak Dengar Dari Orangtua, Kenapa Ya?

Kenapa Ya? Di antara kita mungkin ada yang bertanya demikian. Sebabnya bisa jadi belum memahami atau sering tidak sadar bahwa perkataan yang kita ucapkan bisa berpengaruh pada orang lain. Dalam aktivitas sehari-hari kita mendengar banyak ucapan dari orang lain pada kita, baik ucapan positif maupun negatif. Semua ucapan itu memiliki efek yang memengaruhi kondisi mental kita.

Sebagai contoh kita pernah salah sangka dengan ucapan seseorang. Saat orang lain berbicara dengan intonasi tinggi pada kita, mendengar itu kita kadang langsung jadi emosi dan tersinggung. Padahal orang tersebut tidak bermaksud membuat kita emosi atau tersinggung. Selain itu, kita pasti merasa senang jika dipuji oleh rekan kerja atau bahkan atasan kita. Padahal kalimat yang mereka ucapkan itu bisa jadi kalimat yang sederhana, namun berkesan bagi kita.

Jika bagi orang dewasa ucapan itu sangat berpengaruh, begitupun bagi anak. Anak-anak memiliki pikiran dan perasaan. Setiap hari anak mendengar banyak ucapan dari orang di sekelilingnya. Baik ucapan positif maupun negatif. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah mampu mengelola perasaannya, anak belum mampu sehingga setiap ucapan akan sangat memengaruhi mentalnya.

Setiap hari anak mendengar banyak ucapan dari orang di sekelilingnya. Baik ucapan positif maupun negatif. Ucapan-ucapan itu sangat memengaruhi perkembangan mentalnya.

kenapaya.id

Mulutmu harimaumu, kata sebuah pepatah yang pasti kita semua tahu. Sebagai orangtua, jika kita sering berkata anak kita nakal, bukan tidak mungkin anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang berwatak buruk. Jadi seseorang yang jarang bermanfaat dan sering menyusahkan orang lain, dan hanya mendatangkan rasa malu bagi kedua orangtuanya.

Kepribadian baik anak hasil kerja keras bukan bawaan lahir

Kepribadian seseorang bukan bawaan dari lahir. Saat anak lahir, mereka tidak membawa kepribadian baik dalam dirinya. Anak dengan kepribadian baik merupakan hasil kerja keras dari orangtua yang membesarkannya. Bukan hanya dengan ilmu dan teladan akhlak saja, tetapi ungkapan atau ekspresi tulus orangtua saat menyatakan betapa anak dicintai.

Cari Tahu Juga :  Anak Susah Makan Sayur? Jangan Khawatir, Ini Trik Mengatasinya

Setiap ucapan positif yang kita ungkapkan pada anak akan membuatnya merasa aman dan nyaman berada di sisi orangtuanya. Efek jangka panjang anak akan menjadi pribadi yang baik. Hal itu karena anak selalu ingat ucapan positif kita padanya. Selain itu, ucapan kita masuk ke dalam ingatan bawah sadar yang menuntunnya pada kebaikan.

Sebagai orangtua, kita menyadari masih secara tidak sengaja melakukan kebiasaan buruk melontarkan ucapan yang kurang pantas pada anak, terlebih saat emosi kita sedang tidak terkendali. Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Sekarang mari kita ubah ucapan kurang pantas menjadi ucapan positif demi kebaikan masa depan anak dengan tindakan-tindakan positif berikut ini.

1. Ganti kebiasaan mengancam anak dengan dorongan semangat

Ubah kebiasaan mengancam anak
Ubah kebiasaan mengancam anak

Kebiasaan mengancam tidak mendidik anak untuk menjadi lebih bertanggung jawab. Anak yang sering mendengar ancaman dari orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang tidak punya kepercayaan diri, mudah takut, atau sebaliknya cenderung memberontak. Ubah kebiasaan buruk ini dengan dorongan semangat. Saat anak membuat rumah berantakan, berusahalah untuk :

Hindari ucapan buruk :

“Kalau kamu begini terus, ngga ada jatah kue buat kamu!”

“Kalau kamu tidak mau membersihkan kamarmu, semua mainanmu akan mama kasih orang!”

Lakukan dorongan semangat :

“Tidak apa-apa, Ayo kita bereskan semua”

“Wah, kreatif sekali anak bunda. Sekarang waktu mainnya sudah habis, kita bereskan yuk, karena sebentar lagi ayah pulang”

2. Jangan pelit mengekpresikan kasih sayang

Jangan pelit mengekspresikan kasih sayang
Jangan pelit mengekspresikan kasih sayang

Kebiasaan orangtua yang mesti diubah selanjutnya adalah jarang mengekpresikan kasih sayang pada anak. Saat anak sedang tidak bermasalah, biasanya kita diam mengabaikan atau sibuk sendiri. Saat anak bermasalah baru kita bereaksi. Biasakan untuk memperhatikan anak saat mereka tidak bermasalah. Ungkapkan rasa sayang kita pada mereka dengan ungkapan seperti ini.

Cari Tahu Juga :  Kumpul Lebaran, Anak Kok Takut Saat Bertemu Orang Baru, Kenapa Ya?

“Bunda sayang kamu”

”Senang deh rasanya punya anak pinter kaya kamu, sayang”

3. Berikan apresiasi dan motivasi pada anak bukan membandingkannya dengan orang lain

Berikan apresiasi dan motivasi
Berikan apresiasi dan motivasi

Anak-anak belum tentu maksud baik orangtua ketika mereka dibandingkan dengan anak lain, termasuk dengan saudara kandungnya. Bagi anak yang sering dibanding-bandingkan namun belum paham akan membuat mereka meragukan dirinya sendiri. Anak bisa mengalami krisis kepercayaan diri dan menimbulkan pikiran negatif terhadap orang lain.

Sekarang, hindari dan cobalah ganti kebiasaan buruk itu dengan ucapan positif.

Kebiasaan ucapan buruk :

“Kok kamu nilainya jelek sih, kenapa tidak seperti teman-temanmu itu nilainya pada bagus?”

“Lihat itu si Budi, kelakuannya baik, ngga seperti kamu yang nakal”

Ucapan positif :

“Tidak apa-apa sayang, kamu sudah berusaha sendiri dengan giat, ayah bangga. Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, yuk belajar lagi!”

“Anak ayah kok aktif banget ya, mau jadi apa sayang nanti kalau sudah besar?”

4. Akui dan minta maaflah jika kita bersalah pada anak

Akui dan minta maaflah pada anak
Akui dan minta maaflah pada anak

Mengakui kesalahan bukanlah perkara rendah dan memalukan. Justru itu perbuatan yang menunjukan keluhuran budi pekerti. Orangtua yang mengakui kesalahannya pada anak secara langsung mengajarkan anak sikap tanggungjawab. Ditambah dengan ungkapan maaf yang tulus menjadi pesan yang dapat menumbuhkan rasa empati pada anak dan menghilangkan sifat egois.

Biasakan ucapkan ini saat kita berbuat salah pada anak.

“Maafkan bunda ya, barusan membentakmu”

“Aduh bunda salah, maaf ya sayang”

Hindari kebiasaan egois seperti ini.

Cari Tahu Juga :  Orangtua Jangan Suka Paksa Anak Balita Minta Maaf, Kenapa Ya?

“Tahu apa kamu? Ngebantah terus ya!”

“Pokoknya kamu harus nurut apa kata mama!”

5. Akui dan ajarkan anak untuk mengekspresikan emosinya

Ajarkan anak mengekspresikan emosinya
Ajarkan anak mengekspresikan emosinya

Sama halnya orang dewasa, anak-anak juga butuh pengakuan kalau dirinya sedang kesal, marah, kecewa atau sedih. Perbedaannya hanya saja mereka belum tahu cara mengekspresikannya. Karena belum tahu akhirnya anak menjadi tantrum, agresif bahkan kasar. Perilaku anak tersebut bisa berubah kuncinya ada pada orangtua.

Anak yang jarang diakui perasaannya oleh orangtua, efek jangka panjangnya saat dewasa nanti mereka menjadi pribadi yang egois, tidak empati dan kurang peka terhadap lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, mereka akan menjadi toxic person. Dalam menghadapi emosi anak, orangtua harus bisa tenang dan biasakan ucapkan kalimat positif yang mengakui perasaan mereka dan mengajarkan cara mengekspresikannya.

Biasakan lakukan ini saat anak sedih.

“Tidak apa-apa sayang, rupanya kamu sedih karena mainanmu hilang ya.”

“Mama ngerti kok apa yang rasakan, pasti sedih ya tidak bisa bermain bersama teman-teman.”

Hindari kebiasaan buruk ini.

“Berhenti nangis sekarang juga! Salah sendiri mainanmu hilang!”

“Sudah jangan nangis, masa begitu aja kamu cengeng”

6. Ajarkan anak untuk tidak menyerah dengan ucapan yang tepat

Ajarkan anak untuk tidak menyerah
Ajarkan anak untuk tidak menyerah

Saat seseorang sedang berusaha untuk mencapai suatu tujuan, hal yang wajar ketika mengalami suatu hambatan atau kegagalan. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun butuh bantuan dan dukungan agar bisa melalui hambatan atau bangkit dari kegagalannya itu. Sebagai orangtua, tentu kita pasti akan berusaha membantu dan mendukung anak dalam berusaha mencapai tujuannya itu.

Misalnya, saat anak sedang belajar mengendarai sepeda roda duanya. Tentu tidak akan langsung bisa. Kegagalan berupa jatuh dari sepeda sudah pasti anak rasakan. Nah, orangtua pasti tidak tinggal diam. Kita berusaha membantu dan mengajarkan mereka. Pada saat membantu anak, cobalah gunakan kalimat yang tepat dalam memberikan motivasi pada mereka.

Cari Tahu Juga :  Macam-Macam Bullying Dan Cara Melindungi Anak Dari Bullying

Ungkapkan kalimat yang tepat.

“Ayah percaya, kamu pasti bisa! Ayo coba lagi pelan-pelan”

“Tadi hampir bisa sayang. Mari Ayah bantu, kita coba jalankan lagi pelan-pelan”

Ungkapan kalimat yang keliru.

“Ayo dong, Udah dari kok masih jatuh terus?”

“Masih belum bisa-bisa juga dari tadi, gimana sih?”

7. Biasakan mendengar dan menghormati pendapat dan keputusan anak

Biasakan mendengar pendapat anak
Biasakan mendengar pendapat anak

Jadilah orangtua yang friendly pada anak, selalu berusaha untuk mendengarkan pendapat dan keputusan anak. Anak memilki hak untuk didengarkan orangtua. Biarkan mereka belajar untuk menyampaikan pendapat dan keputusannya. Hal itu agar anak menjadi pribadi yang optimis pada dirinya sendiri. Kemudian, anak juga akan senang lebih terbuka dengan orangtuanya dan semakin akrab.

Kebiasaan ucapan yang harus dihindari orangtua.

“Bunda itu tahu apa yang terbaik untuk kamu!”

“Udah jangan ngebantah, dengerin apa kata bunda!”

Biasakan ucapkan ini pada anak.

“Hari ini mau main apa sayang?”

“Kok bedaknya dituang ke lantai, biar apa sayang?”

8. Biasakan menggunakan kalimat positif pada anak

Biasakan menggunakan kalimat positif pada anak
Biasakan menggunakan kalimat positif pada anak

Jika bisa berkata positif pada anak, kenapa harus berkata negatif? Persoalannya tidak semua orangtua terbiasa menggunakan kalimat positif pada anak. Umumnya para orangtua itu menggunakan kalimat yang pernah mereka dengar dulu sewaktu kecil, atau mendengar dari lingkungannya. Sekarang, mari kita ubah dan latihan menggunakan kalimat positif pada anak.

Misalnya saat anak kita berjalan lambat, sedangkan kita sedang buru-buru. Kalimat positif yang harus bisa kita biasakan.

“Kakak, coba kita balapan, kira-kira siapa yang menang ya? Berani?”

“Kakak kan kuat, bisa ngga berlari secepat harimau? Ayo kita balapan!”

Hindari kebiasaan kalimat negatif ini.

Cari Tahu Juga :  Printable Worksheet Mewarnai Gambar Ambulan

“Cepetan dong! Kalau ngga cepetan bunda tinggal lho ya!”

9. Hentikan kebiasaan meralat kesalahan anak dan berilah pujian atas proses yang telah berhasil anak lakukan

Biasakan tidak meralat dan berikan apresiasi atas usaha anak
Biasakan tidak meralat dan berikan apresiasi atas usaha anak

Belajar dari kegagalan akan melahirkan keberhasilan. Biarkan anak kita belajar dan melalui setiap prosesnya sebelum akhirnya mereka mampu meraih keberhasilan. Hentikan kebiasaan meralat kesalahan anak. maksudnya meralat adalah saat anak belum selesai berusaha, kita sebagai orangtua sudah langsung ambil alih. Umumnya agar cepet selesai atau tidak mau anak mengalami kesulitan.

Kebiasaan orangtua meralat kesalahan dan mengambil alih usaha anak harus dihentikan. Karena efeknya anak menjadi kurang pengalaman, mudah menyerah dan menjadi pribadi yang selalu ingin serba instan tidak mau melalui prosesnya. Orangtua harus bisa menahan diri dan membiarkan anak berusaha. Jadilah fasilitator yang mendampingi anak, lalu berilah pujian pada proses yang telah berhasil anak lakukan.

Biasakan ucapkan ini pada anak.

“Wah adik hebat ya sudah bisa makan sendiri!”

“Tidak apa-apa berantakan juga, yang penting adik pinter bisa makan sendiri. Hebat!”

Hentikan berkata ini pada anak.

“Tuh kan tumpah semua. Sini ayah aja yang suapin”.

Kebiasaan-kebiasaan kita berkata yang tidak tepat pada anak pasti tidak mudah untuk langsung berubah menjadi baik. Butuh proses yang panjang dan usaha yang konsisten. Mengetahui bahwa selama ini kita sering berkata salah pada anak merupakan satu langkah penting untuk menjadi orangtua yang baik. Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, mari terus belajar dan berusaha menjadi orangtua yang ideal demi kebaikan masa depan anak-anak kita tercinta.

What’s your Reaction?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1

Tim Admin

Tim Admin Parentspedia

More Reading

Post navigation

9 Comments

  • Inspiratif banget. Masih banyak orang tua yang menggunakan kata-kata negatif saat berkomunikasi. Padahal orang tua sendiri sensitif dengan kata-kata negatif.
    Kita sebagai ayah juga harus peka dengan hal-hal semacam ini.
    Terima kasih sharing artikelnya kak.

  • Kepribadian baik anak hasil kerja keras bukan bawaan lahir, iya juga ya kak. artikel ini sangat bermanfaat buat kita yang sedang belajar ilmu untuk mengasuh anak. terima kasih kak sudah berbagi

  • Nice article kak! Memang harus bisa memilih kata kata yang baik untuk anak, agar selalu menjadi hal positif kedepannya. Thanks sudah sharing yaa kak

  • terimakasih sharingnya, sangat bermanfaat. saya terkadang masih melakukan beberapa poin salah yang sudah dishare di artikel ini. Semoga saya bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

  • Hanya sesederhana mengubah kebiasaan kecil para orang tua pada anak ketika berkata-kata justru akan memberikan dampak yang besar pada tumbuh kembang anak. Artikel yang sangat bagus. Semoga para orang tua semakin peduli pada mental anak mereka dengan memerhatikan bagaimana cara berbicara yang baik.

  • Menjadi orangtua memang sebuah proses. Semoga dengan hati orangtua yang bahagia dan senantiasa belajar dari artikel di Kenapaya.id bisa menambah kebaikan dalam mengasuh anak.

  • proses yang panjang dan perlu kesabaran ekstra untuk menjadi orangtua, karena sejatinya anak-anaklah guru kehidupan, terima kasih remindernya ya kak, saya juga masih luput ini, semangat belajar menemani tumbuh kembang ananda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *