Home » Remaja » Ampun Deh! Anak Kok Susah Patuh Sama Orangtua, Kenapa Ya?
Anak Tidak Patuh Pada Orangtua

Ampun Deh! Anak Kok Susah Patuh Sama Orangtua, Kenapa Ya?

Kenapa Ya? Pertanyaan ini menjadi keluhan sebagian besar orangtua. Perilaku buruk anak usia sekolah, mulai dari SD sampai SMA membuat orangtua kewalahan mengatasinya. Saat masih kecil rasanya anak kita mudah patuh pada orangtua. Adapun kenakalan kecil yang mereka buat menjadi hal yang lucu dan menggemaskan. Namun sekarang, rasanya kok berbeda ya?

Sebenarnya tidak ada berbeda dari anak kita. Mereka hanya mengalami pertumbuhan dan perkembangan saja. Saat masih kecil, anak kita masih sangat bergantung pada orangtunya. Makanya mudah patuh. Sekarang, anak mulai berusaha mandiri dan mempunyai kehendaknya sendiri. Hal itu wajar dan dialami juga oleh anak lain seusianya. Justru bisa jadi kita yang berbeda di mata anak kita. Kok gitu?

Saat anak kita masih kecil, kita begitu sabar dan ramah pada mereka. Kita berusaha membuat anak untuk selalu tertawa bagaimanapun caranya. Lalu, mengapa sekarang tidak? Mungkin jawabannya, sekarang mereka sudah besar. Masa mau diperlakukan seperti anak kecil? Tentu bukan seperti anak kecil caranya, sesuaikan dengan perkembangan usianya, yang penting bisa membuat anak tertawa. Itu poinnya.

Kenapa anak kita sekarang jadi bermasalah? Sebagai orangtua, kita sudah berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhannya. Semua sudah serba orangtua fasilitasi untuk mereka. Kemudian kita juga berusaha untuk dapat menjadi teladan baginya. Mulai dari contoh teladan dalam ibadah sampai kerja keras. Namun yang terjadi anak-anak malah begitu santai menunda-nunda shalat. Kita yang kerja, anak malah setiap hari menghabiskan uang orangtuanya.

Cari Tahu Juga :  Belajar Parenting Harus Dari Sebelum Menikah, Kenapa Ya?

Apa lagi yang kurang? Perhatian? Sudah setiap hari pasti kita tidak lupa untuk memberi nasehat dan mengingatkan mereka. Setelah keteladanan, kita berusaha mengajak dan menyuruh mereka untuk melakukan yang kita kerjakan. Tetapi semuanya seperti tidak ada hasilnya. Tidak ada yang berubah pada kelakukan mereka. Tetap ada saja yang membuat kita emosi setiap harinya.

Apa yang salah dari kita, orangtua?

Sebelum keluh kesah tentang anak berlanjut. Coba kita cek sejenak, sepertinya bisa jadi ada yang salah dengan yang selama ini kita lakukan sebagai orangtua. Bukan usaha maupun pemberiannya, bukan pula keteladanannya. Bisa jadi caranya yang keliru. Kekeliruan caranya inilah yang membuat semua yang sudah kita lakukan membuat seperti tidak ada hasilnya. Jika misalnya ada, itupun tidak berlangsung lama. Setelahnya kembali lagi pada perilaku sebelumnya.

Sekarang, jika misalnya ada yang berbicara dengan kita menggunakan nada keras dan tidak sopan? Bukankah menyakitkan? Terkadang, kita malah tidak fokus dengan apa yang orang itu katakan karena sudah kepalang emosi dengan cara bicaranya. Nah, ini juga bisa terjadi pada komunikasi antara orangtua dan anak. Berbicara menggunakan nada kasar atau kalimat yang tidak menyenangkan tentu membuat anak malah emosi dan tidak mendengarkan nasehat kita.

Selama ini mungkin secara sadar maupun tidak, lebih sering anak itu kita omongi ketimbang diajak ngomong. Orang dewasa saja jika setiap hari diomongi pasti tidak senang. Ayah diomongi setiap hari oleh bunda pasti kesal, begitupun sebaliknya. Jika demikian, bagaimana anak bisa menangkap pesan cinta dan kasih sayang kita jika setiap hari diomongi?

Selama ini mungkin secara sadar maupun tidak, lebih sering anak itu kita omongi ketimbang diajak ngomong.

kenapaya.id

Coba, kita kembali pada beberapa kalimat sebelumnya. “Kekeliruan cara interaksi orangtua dengan anak yang membuat semua yang sudah kita lakukan membuat seperti tidak ada hasilnya. Jika misalnya ada, itupun tidak berlangsung lama. Setelahnya kembali lagi pada perilaku sebelumnya”. Nah, jika misal ada tidak berlangsung lama. Artinya anak menuruti orangtua itu terpaksa bukan benar-benar patuh karena cinta.

Cari Tahu Juga :  Download Ocean Animals Scissors Skills Pages

Hasil survey oleh Ihsan Baihaqi, praktisi parenting kepada para orangtua di sekitar 100 kota dalam 29 provinsi. Bahwa masih banyak orangtua yang berkeyakinan, untuk membuat agar anak patuh pada orangtua adalah dengan mengedepankan hukuman fisik. Penerapan ketegasan dalam rumah berupa hukuman kekerasan pada anak. Istilahnya “kalau tidak orangtua pukul, anak akan kurang ajar”.

Ketegasan dalam penerapan aturan dalam rumah itu sangat perlu. Hukuman fisik berupa mencubit atau memukul supaya anak patuh bisa jadi betul. Namun, jika anak menjadi patuh, apakah kepatuhannya itu benar-benar atas dasar kesadaran atau karena takut dengan hukuman?

Akrab dengan anak, salah satu ikhtiar untuk membuat anak patuh karena cinta

Orangtua akrab dengan anak
Akrab dengan anak remaja

Kepatuhan yang dibangun antara jalan kekerasan pada anak dengan keakraban bersama anak sangat jauh berbeda. Keakraban lebih mengedepankan hubungan yang baik dengan anak. Dibangun melalui komunikasi yang efektif antara orangtua dengan anak. Lebih sering mengajak anak mengobrol ketimbang anak diomongi.

Pada jalan ketegasan melalui kekerasan, merupakan kebalikan dari keakraban, interaksi orangtua dengan anak hanya terjadi ketika anak berbuat kesalahan. Jika anak tidak bermasalah maka seringnya antara orangtua dan anak itu sibuk masing-masing. Yang namanya kekerasan, munculnya adalah emosi, bukan emosional.

Anak yang pengasuhannya tanpa pukulan, tanpa bentakan dan sejumlah reaksi buruk orangtua lainnya ternyata lebih mudah orangtua kuasai. Lebih mudah mendengar setiap nasihat orangtuanya, lebih mudah patuh. selain itu, anak menjadi lebih senang saat berada bersama orangtuanya. Kepatuhan terjadi karena pendekatan melalui keakraban. Keakraban membuat orangtua dan anak menjadi sangat dekat hubungan emosionalnya.

Cari Tahu Juga :  Macam-Macam Bullying Dan Cara Melindungi Anak Dari Bullying

Masih dalam survey Ihsan Baihaqi kepada sekian ribu orangtua, terutama mereka yang dulu sering curhat pada orangtuanya. Ketika sering curhat, hampir semua menjadi anak yang lebih dekat dengan orangtuanya. Lalu setelahnya, tentu menjadi lebih patuh pada setiap nasihat orangtuanya. Dari survey tersebut artinya kedekatan emosional sangat berpengaruh pada kepatuhan anak.

Anak yang pengasuhannya tanpa pukulan, tanpa bentakan ternyata lebih mudah patuh dan mendengar nasihat orangtuanya.

kenapaya.id

Masing-masing dari kita, para orangtua mungkin sudah berusaha pula untuk berbicara pada anak. Pelan-pelan berusaha untuk memahami perasaan anak, berusaha membangun kedekatan dengan anak. Tetapi hasilnya masih belum sesuai harapan. Anak belum mau terbuka dengan orangtua. Akhirnya menjadi tidak sabar dan kembali lagi kepada cara lama.

Persoalan yang terjadi pada kita adalah bisa jadi komunikasinya tidak berjalan efektif. Mari cari tahu penyebab komunikasi antara orangtua dan anak menjadi tidak efektif. Dalam membangun kedekatan dengan anak hanya terjadi secara isidental, bukan aktivitas yang kontinu setiap hari. Lalu ketidaksabaran kita yang selalu menginginkan hasil instan. Bagaimana mungkin, masalah yang sudah berlangsung lama bisa selesai dalam waktu sekejap dengan beberapa kali pendekatan.

Sekarang, mari kita berusaha lagi untuk bisa akrab dengan anak. Karena akrab dengan anak itu penting. Mengapa akrab itu penting? Karena agar anak patuh dengan orangtua karena benar-benar cinta dan sayang bukan terpaksa. Selain itu, mengapa penting, sebab keakraban orangtua dengan anak memiliki beberapa fungsi.

Cari Tahu Juga :  5 Pesan Penting Dari Film Miracle in Cell No. 7 Untuk Keluarga

Fungsi pertama keakraban adalah penjaga kedamaian hati anak

Anak patuh pada orangtua
Orangtua akrab dengan anak

Ketika kita hendak mendisiplinkan anak dan mencoba menghentikan perilaku buruk anak, maka suatu saat kita pasti tidak dapat menghindari untuk bertindak tegas pada anak. Misalnya dengan memberikan larangan ataupun memberikan konsekuensi pada anak.

Saat anak berlebihan main game atau nonton TV, tentu kita bertindak bisa jadi mengurangi atau bahkan sampai mencabut hak main game atau nonton TV-nya. Lalu karena tidak nyaman, kemudian anak menjadi emosi dan mencoba mengekspresikan ketidaknyamanannya kepada orangtua. Anak berkata bahwa orangtua tidak sayang padanya, dan perkataan lain semacamnya.

Kondisi anak tidak nyaman saat kita beri konsekuensi, itu wajar. Namun, konsekuensi tidaklah pasti berarti akan membuat anak kemudian beranggapan bahwa orangtuanya tidak sayang padanya. Selama kita menjaga keakraban dengan anak, itu hanya sebuah ekspresi emosional sesaat dari anak. Setelahnya anak akan kembali lagi dekat dengan kita.

Fungsi kedua keakraban adalah pemupuk kasih sayang

Anak patuh
Ayah akrab dengan anak

Pemupuk kasih sayang maksudnya, orangtua yang akrab dengan anaknya adalah tanda bahwa mereka menyediakan sebagian tubuh, waktu, pikiran, dan perasaan mereka untuk anak. Mereka memupuk cinta pada diri anak-anaknya. Tidak hanya sebatas merasa sayang dalam “pikiran”, tapi mengekspresikan kasih sayang itu secara konkrit dalam tindakan nyata.

Mengekspresikan kasih sayang secara konkrit dan tindakan nyata tidak cukup dengan pemberian kebutuhan materi saja. Lengkapi juga dengan kebutuhan yang bersifat non materi. Kebutuhan yang bisa dirasakan dan dinikmati oleh perasaan anak. Jika anak merasa dicintai dengan sebenar-benarnya, maka akan ada perasaan tak nyaman jika anak tidak patuh pada orangtuanya. Mereka merasa, jika tidak mematuhinya akan dapat menyakiti perasaan orang yang telah memberikan cintanya itu.

Cari Tahu Juga :  Fatherless, Ayah Engkau Di mana?

Bagi kita orangtua, mengakrabkan diri dengan anak banyak manfaatnya di antaranya, membuat kita lebih bahagia, hati menjadi tenang karena anak terbuka dengan kita dalam setiap urusan dan perasaanya dan perasaan positif selalu menyelimuti kehidupan kita. Jadi, jika ada cara yang menyenangkan, mengapa pilih yang menyusahkan. Jika anak bisa kita buat mendekat, mengapa harus menjauh.

What’s your Reaction?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1

Tim Admin

Tim Admin Parentspedia

More Reading

Post navigation

11 Comments

  • saya mencoba mengakrabkan diri dengan anak, salah satunya dengan meluangkan family time dikala libur kerja. biasanya saya ngajakin bersepeda bareng sambil ngobrol2.

  • Bismillah semoga bisa menjadi orang tua yang bisa berkomunikasi dengan anak dengan banyak diajak ngomong bukan ngomongin.

  • Dulu, sulung saya suka memberontak. Gara-garanya selalu dibela kakeknya. Akhirnya saya diremehkan. Untung menginjak masa remaja jadi lebih nurut.

  • Wah artikelnya bermanfaat sekali buat para orang tua nih. Anakku masih kecil, toddler, tapi ini bisa menjadi pegangan buat aku dan suami supaya bisa jadi orang tua yang ‘bersahabat’ dengan anak. Biar gedenya gampang diatur hehe. Makasih yaa sharingnya..

  • pengalaman saya sendiri dari kecil saya tidak bersama orang tua, paling bersama orang tua itu hanya bulan puasa sampai lebaran saja, kurang lebih 1 bulan. setelah itu saya sama nenek saya. akan tetapi orang tua saya hampir seminggu bisa tlp saya 3-4 kali. mungkin seperti itu bisa lebih mendekatkan orang tua dengan anaknya. sampai saya kuliah dan bekerja ini pun orang tua saya masih seperti itu. dan dari itu saya bisa mengetahui apa yang nggak boleh dan apa yang boleh dilakukan. walaupun hanya pembicaraan lewat tlp saja.

    semoga nanti kita ( khususnya saya ) bisa menjadi teladan bagi anak anak kita, dan bisa menjadi teman curhat anak anak kita.

  • masya Allah, makasih sharingnya kak.. saya belum jadi orang tua tapi ini sudah menjadi dasar agar anak bisa patuh dan bersahabat dengan kita..

  • Info yang bagus untuk orang tua di luar sana. Karena memang pengasuhan dengan cara memukul nggak baik. Aku sendiri contohnya hehehehe. Sering dipukuli sama nenek kakek malah jadi pemberontak. Hal ini jadi PR untuk aku menghentikan lingkaran setan keluarga sendiri. hehehe

  • Tulisan kak Arief keren. Bisa jadi rujukan saat kita sebagai orang tua punya keluh kesah tentang anak .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *