Home » Keluarga » Dilarang Berkata ini Kepada Orang Berduka Kehilangan Anak, Kenapa Ya?
Dukungan dan Bantuan

Dilarang Berkata ini Kepada Orang Berduka Kehilangan Anak, Kenapa Ya?

Kenapa Ya? Pertanyaan mengapa dilarang, alasannya karena perkataan yang mungkin maksudnya baik namun tidak tepat momennya. Alih-alih ingin menaruh empati malah menjadi toxic bagi mereka yang sedang berduka kehilangan anak. Seperti yang sedang dialami oleh keluarga Ridwan Kamil baru-baru ini. Mereka salah satu dari sekian para orangtua yang merasakan sedihnya kehilangan anak. Kehilangan anak sulung bernama emmeril kahn mumtadz.

Masyarakat Indonesia, saat ini sedang ramai menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga duka, Ridwan Kamil yang biasa kita sapa kang Emil. Ramai orang menyampaikan bela sungkawa baik melalui media sosial sampai datang takziyah ke rumah duka. Tentunya kita ikut merasakan kesedihan yang sedang mereka alami.

Beratnya sedih kehilangan anak tak terbayang

Kesedihan mendalam
Kesedihan mendalam kehilangan anak / Freepik

Di antara kita mungkin ada yang pernah merasakan sedihnya ditinggal wafat orangtua. Kesedihan kehilangan sosok orangtua bisa sampai berbulan-bulan. Kesedihan mendalam, ketidaksiapan kehilangan dan banyak perasaan tidak karuan yang kita rasakan. Itu orangtua, yang mungkin sudah lama kita memang terpisah rumah. Tapi Ini kehilangan anak. Tak terbayang oleh kita betapa sedihnya kehilangan anak.

Kehilangan anak yang merupakan darah daging kita sendiri. Setiap hari kita bertemu, berinteraksi mendengar segala keluh kesahnya, melihat tangis dan tawanya. Sungguh sangat sulit bagi mereka untuk bisa pulih dari kesedihan dalam waktu singkat. Mereka butuh dukungan untuk bisa lebih ikhlas dan bangkit dari kesedihan.

Sungguh sangat sulit bagi mereka untuk bisa pulih dari kesedihan dalam waktu singkat. Mereka butuh dukungan untuk bisa lebih ikhlas dan bangkit dari kesedihan.

kenapaya.id

Mengetahui dan ikut merasakan kesedihan mereka yang kehilangan anak untuk selamanya menjadi kesempatan kita untuk berempati pada mereka. Dalam beberapa waktu saat kita berinteraksi dengan mereka yang berduka, hindari ucapan perkataan toxic. Perkataan yang dapat menyakiti hati dan membuat mereka semakin terpuruk dalam kesedihan.

Cari Tahu Juga :  Katanya Keluarga Itu Penting, Tapi Masih Dikorbankan, Kenapa Ya?

Bukan soal baper atau tidak baper

Tekanan mental
Sedih ditinggal anak wafat / Freepik

Sebelum membahas kalimat apa saja yang termasuk toxic saat ada yang berduka kehilangan anak. Sedikit menegaskan bahwa ini bukan soal baperan atau tidak baper. Siapapun, saat kondisi sedih dan terpuruk yang mereka butuhkan adalah dukungan. Jadi sampaikanlah kalimat positif yang membangun, bukan pertanyaan kekepoan (interogatif), apalagi tuduhan. Bayangkan, sudah sedih kehilangan, masih kita tambah dengan beban perasaan makin disalahkan.

Di tengah ramainya orang-orang berbelasungkawa dan ikut merasakan kesedihan, ada saja orang yang mungkin pernah kita dengar berkomentar seperti ini.

“Kok bisa tenggelam?”

“Kok bisa?”

“Emang lagi ngapain sih jauh-jauh ke swiss? Malah berenang di kali”

“Bukannya fokus sama tujuannya ke swiss, eh malah main-main, akhirnya kan malah gini”

Itu mungkin beberapa komentar langsung, mungkin ada pula contoh lain yang pernah kita lihat pada media sosial berupa konten, status atau cuitan. Segala ungkapan itu mungkin niatnya baik. Tapi cara dan momennya yang sangat tidak tepat. Karena momennya yang tidak tepat akhirnya kalimat itu menjadi toxic positivity.

Dampak toxic positivity bagi mereka yang berduka

Toxic postivity
Dampak toxic positivity / Freepik

Toxic positivity dapat berdampak negatif bahkan berbahaya bagi kesehatan mental orang yang sedang berjuang menghadapi masalah atau kesedihan. Berikut beberapa dampak yang akan mereka alami, di antaranya:

1. Menimbulkan perasaan bersalah atau disalahkan

Saat di antara kita mengalami kesedihan, mereka butuh pengakuan bahwa emosi yang mereka rasakan itu benar. Oleh karena itu, mereka akan mencurahkan dan menceritakan apa yang sedang mereka rasakan pada orang yang dipercaya agar merasa lebih nyaman. Sayangnya, mereka malah mendapatkan komentar atau petuah yang kesannya positif tapi menimbulkan perasaan bahwa apa yang mereka rasakan adalah sesuatu yang salah.

Cari Tahu Juga :  Keharmonisan Rumah Tangga Meningkat Saat Ramadhan, Kenapa Ya?

2. Membuat seseorang menahan atau menghindari emosi sesungguhnya

Ketika orang yang sedang mengalami kesedihan berusaha mendapatkan toxic positivity. Berusaha menggapi komentar atau petuah yang kesannya positif, dan menutupi emosinya dengan berpura-pura merasa “baik-baik saja” atau “sudah ikhlas”, maka hal itu akan menghindari situasi yang membuatnya tidak nyaman. Kemudian tidak berani untuk menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman tersebut.

Perasaan yang selalu mereka pendam akan mempengaruhi kondisi kesehatan mentalnya. Emosi yang tidak dapat mereka ekspresikan itu sewaktu-waktu dapat meledak. Sehingga akan dapat memperburuk keadaan dan kondisi mental.

Berikanlah bantuan dan dukungan

Dukungan dan Bantuan
Berikan dukungan dan bantuan / Freepik

Ketahuilah, Ketika seseorang berduka setelah kehilangan sejatinya sedang berjuang dengan banyak emosi yang intens dan menyakitkan. Emosi seperti depresi, kemarahan, rasa bersalah, dan kesedihan yang mendalam. Seringkali, mereka juga merasa terisolasi dan sendirian dalam kesedihan mereka. Hal itu akibat rasa sakit yang hebat dan emosi yang sulit.

Ketahuilah, seringkali mereka juga merasa terisolasi dan sendirian dalam kesedihan mereka. Hal itu akibat rasa sakit yang hebat dan emosi yang sulit.

kenapaya.id

Oleh karena itu berhati-hatilah dalam berkomentar atau memberikan masukan pada mereka yang sedang berduka. Jika mereka butuh waktu untuk sendiri, berikan kesempatan. Kemudian dalam jangka waktu yang cukup ajak bicara dan tawarkan bantuan kepadanya. Ungkapkan perasaan kita dengan perkataan seperti ini,

Cari Tahu Juga :  Tahun 2023, Resolusi Baru Agar Hubungan Pernikahan Lebih Baik

“Saya turut bersedih atas kepergian kaka.”

“Jika mau bercerita tentang dia, saya siap mendengarkan.”

“Klo ada yang bisa saya bantu, tolong bilang ya.”

“Saya tidak yakin harus ngomong apa, tetapi saya ingin berada di dekatmu.”

Kalimat-kalimat tersebut akan membuat mereka nyaman. Mereka akan merasa kita terima dan kita akui perasaan kehilangannya. Suatu hari mereka mungkin ingin menangis di bahu kita. Pada hari yang lain mereka mungkin ingin curhat, atau hanya duduk diam, atau berbagi kenangan (tentunya dalam batasan hijab yang mereka jaga).

Dengarkanlah dengan penuh kesabaran dan perhatian

Dukungan mental
Hadir dan dengarkan mereka yang berduka / Freepik

Hadir dan mendengarkan mereka dengan penuh cinta, kita dapat mengambil isyarat dari orang yang berduka. Berada di sana dan mendengarkan mereka bisa menjadi sumber kenyamanan dan penyembuhan yang besar. Biarkan yang berduka berbicara tentang bagaimana orang yang mereka cintai meninggal.

Orang yang berduka mungkin perlu menceritakan kisah itu berulang kali, terkadang sampai dengan hal yang cukup detail. Bersabarlah mendengarkan mereka. Mengulangi cerita adalah cara memproses dan menerima kematian. Dengan terus menceritakan kembali, rasa sakit akan berkurang. Dengan mendengarkan penuh kesabaran dan perhatian, kita membantu kesembuhan mereka yang kehilangan anaknya.

What’s your Reaction?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1

Tim Admin

Tim Admin Parentspedia

More Reading

Post navigation

7 Comments

  • Kondisi & situasi kehilangan seorang anak blum pernah saya rasakan.. tp setiap insn harus memahami cara berempati & memberi dukungan moril, saat melihat orang lain yg berduka atau tertimpa musibah tertentu..

    Jadi kita harus belajar peka & berempati tinggi terhadap kehidupan sosial di sekeliling kita dg tidak banyak mengeluarkan statement tertentu

  • Setuju banget sih ini. Kita harus belajar memahami cara berempati ketika melihat orang lain yang berduka, jadi tidak menyakiti pihak yang bersangkutan

  • SETUJU!!!!
    Kadang orang terlalu fokus sama penyebab kematian seseorang, padahal harusnya saat itu yg kita lakukan hanya berusaha menemani keluarga yg ditinggalkan.

    Aku ada teman yang pernah kehilangan anak, awal dia cerita rasanya sedih lihat raut muka dia. Aku cuma bisa megangin tangan dia supaya bsa kuat

  • Saya mengikuti dari awal berita hilangnya Eril tapi tidak berani komen apa2 di sosmed. Saya merasa apapun yang saya bicarakan, hal itu tidak akan berdampak positif bagi mereka yang berduka. Mendoakan diam-diam agar Tuhan memberi jalan dan penghiburan adalah langkah terbaik yang bisa saya ambil.

  • Rasanya hancur berkeping-keping, pastinya.
    Saya yang hanya warga Bandung, tanpa ikatan saudara atau apapun, merasakan kepedihan yang teramat mendalam.
    Satu hal yang saya kagumi adalah keikhlasan keluarga Bapak dan Ibu RK.
    Banyak sekali yang berpendapat miring ketika peristiwa ini terjadi. Pun tak jarang mengaitkannya dengan langkah politik yang akan beliau ambil.
    Bener-bener dunia ini terkadang menjadi tempat yang paling mengerikan dengan segala toksisitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *