Home » Anak » Ajarkan Anak Pendidikan Seksual Sesuai Usianya. Begini Caranya

Ajarkan Anak Pendidikan Seksual Sesuai Usianya. Begini Caranya

Parents, beberapa waktu terakhir ini melihat berita banyak sekali terjadi kasus pelecehan pada anak. Korbannya sudah bukan anak remaja lagi bahkan sampai ke anak pra-sekolah. Berdasarkan catatan Komnas PA, pada tahun 2023, kasus kekerasan seksual terhadap anak mencapai 1.915 kasus. Hal ini tentunya membuat kita khawatir terhadap keselamatan dan keamanan putra dan putri kita. Apalagi kita tidak dapat mengawasi anak setiap saat.

Mengutip dari katadata.co.id. Pjs Ketua Umum Komnas PA, Lia Latifah mengatakan bahwa berdasarkan tempat kejadiannya, kasus kekerasan seksual terhadap anak paling banyak terjadi di lingkungan keluarga, yaitu sebanyak 35%. Lalu di lingkungan sekolah sebanyak 30%, lingkungan sosial 23%, dan tidak disebutkan 12%. Melihat dari data tersebut membuat kita was-was ya, Parents. Ini menandakan bahwa kita semua harus waspada dan mengajarkan anak untuk menjaga diri.

Kasus kekerasan seksual terhadap anak paling banyak terjadi di lingkungan keluarga, yaitu sebanyak 35%. Lalu di lingkungan sekolah sebanyak 30%, lingkungan sosial 23%, dan tidak disebutkan 12%.

Pjs Ketua Umum Komnas PA, Lia Latifah

Di Indonesia, pendidikan seks masih dianggap sebagai hal yang tabu diberikan ke anak-anak dan remaja. Orang tua merasa risih ketika anak menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seks. Selain itu ketika orang tua ingin membicarakannya, biasanya suka bingung dari mana harus memulainya. Seperti apa saja yang perlu orang tua katakan dan kapan harus mulai menjelaskan terkait seksualitas pada anak.

Cari Tahu Juga :  Membandingkan Anak Itu Cara Mengasuh Beresiko Tinggi, Kenapa Ya?

Parents, sebenarnya ada banyak sekali cara yang seru dan menyenangkan dalam memberikan pendidikan seks kepada anak. Pastinya kita sesuaikan lagi dengan usia dan kemampuan pemahaman anak. Sekarang, yuk kita ajarkan anak edukasi seks sesuai usianya, begini caranya.

Pendidikan seks kepada si kecil
Sumber : Freepik

Bayi Usia 0-2 Tahun. Kenalkan Bagian Tubuh

Lewat kegiatan sehari-hari kita bisa mengenalkan bagian tubuh ke anak dan fungsinya. Berikan penjelasan tentang nama-nama bagian tubuh mereka, termasuk penis dan vagina. Misalnya saat memandikan anak atau memakaikannya baju, kita mulai mengenalkan anggota tubuhnya. Tidak masalah apabila anak ingin menyentuh semua bagian tubuh mereka, biarkan mereka menyentuh vagina dan penisnya saat mandi atau mengganti popok.

“Sayang, pakai celana dulu ya, daerah kemaluannya harus tertutup. Kakinya masuk ke lubang celana, satu per satu, ya.”

Jelaskan bahwa ada waktu dan tempat untuk telanjang dan tentu saja telanjang tidak boleh di tempat umum. Aktivitas ini bisa menjadi salah satu momen yang tepat untuk menjelaskan lebih banyak lagi. Misalnya memberi tahu nama bagian anggota tubuh dan fungsinya. Kemudian mengajarkan rasa malu dalam rangka awal mengajarkan privasi terhadap dirinya.

Pendidikan seks pada anak balita
Sumber : Freepik

Anak Usia Dini 2-3 Tahun. Kenalkan Organ Reproduksi dan Ajarkan Privasi

Parents, kita masih bicara mengenalkan bagian tubuh pada anak. Sebagian besar anak 2-3 tahun penasaran tentang tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Mereka mulai menyadari bahwa menurutnya ada bagian-bagian tubuh yang berbeda. Jadi wajar sekali kalau anak bertanya “Apa itu?” pada beberapa bagian tubuh yang membuatnya penasaran.

Cari Tahu Juga :  Penuhi Tangki Cinta Anak, Cukup 15-20 menit Bersama Anak

Tugas orang tua menyebutkan nama tubuh dan fungsinya dengan benar, termasuk organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Kenalkan pula pada anak bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki puting, bokong, hidung, tangan, dan lain-lain. Ada baiknya menyediakan media belajar seperti buku yang mengenalkan seluruh anggota tubuh.

Memberikan pendidikan seksual pada anak untuk usia 2 tahun ke atas bisa kita mulai dengan mengenalkan fungsi tubuh dan privasi terhadap dirinya. Mengajarkan rasa malu pada anak terkait privasi pada beberapa bagian tubuh bersifat pribadi dan tidak untuk dilihat oleh banyak orang. Kemudian juga mengajarkan tentang adab berpakaian baik di rumah maupun di tempat umum.

Pendidikan seks pada anak
Sumber : Freepik

Anak Balita Usia 4-5 Tahun. Ajarkan Tentang Reproduksi dan Privasi Terhadap Orang lain

Jelaskan pada anak bahwa percakapan tentang tubuh adalah hal yang pribadi dan hanya boleh melakukannya di rumah bersama orang tua. Kenalkan pada anak bahwa ia berhak mengatakan siapa yang boleh menyentuh tubuhnya. Sampaikan juga bahwa anak tidak boleh memeluk atau menyentuh orang lain apabila orang tersebut tidak menginginkan dan mengizinkannya (dan sebaliknya).

Selanjutnya, anak pada usia ini umumnya sering menanyakan dari mana dirinya berasal, sedangkan mereka belum memahami bahwa bayi tumbuh dalam rahim dan membutuhkan sperma serta sel telur. Mendapatkan pertanyaan ini parents tak perlu bingung. Ketika anak bertanya mengenai ini, sebaiknya kita jawab dengan jawaban sebenarnya namun kita kemas dengan penjelasan sederhana yang mudah anak pahami.

Cari Tahu Juga :  Membangun Kecintaan Anak pada Membaca, Ini Caranya

“Sayang, sebelum lahir bayi atau yang pada awalnya disebut janin itu tumbuh di bagian tubuh ibu yang disebut rahim. Setelah janin selesai tumbuh, lalu ia akan keluar melalui jalan lahir yang disebut vagina, bisa juga keluar dari operasi yang dibuat dokter di perut ibu.”

Pendidikan seks pada anak
Sumber : Freepik

Anak Usia 6-8 Tahun. Mulai Bicarakan Pubertas

Di usia ini anak mulai lebih kritis dan penasaran terhadap banyak hal termasuk mengenai seks seperti bagaimana bayi bisa ada di dalam perut ibu. Kalau anak sudah bertanya seperti ini, kita bisa tanyakan pendapat dia terlebih dahulu agar kita bisa memahami apa yang sudah anak ketahui, atau bagaimana yang anak maksudkan.

Lalu kita jelaskan dengan sederhana dan memberikan informasi sebanyak yang kita rasa aman dan nyaman. Parents bisa menjelaskan bahwa orang yang sudah menikah memang berhubungan seksual dan hal itu normal. Bahkan, terkadang orang dewasa memberikan pelukan dan ciuman untuk menunjukkan kasih sayang kepada pasangannya.

“Ibu bisa hamil yang bayi ada dalam perut karena adanya sperma dari laki-laki dan sel telur dari perempuan yang bergabung menjadi satu, ketika dua orang melakukan hubungan seksual yang hanya boleh orang dewasa lakukan setelah menikah dan ketika mereka berdua menginginkannya. Hubungan Itu tidak bisa anak-anak lakukan ya.”

Kemudian jelaskan kepada anak tentang perubahan fisik, sosial, dan emosional yang akan anak alami ketika sudah memasuki masa pubertas. Anak perempuan perlu tahu dan bersiap untuk haid pertama mereka dan anak laki-laki perlu tahu tentang ejakulasi dan mimpi basah. Jelaskan pula bahwa kesuburan terjadi atau bisa mengalami kehamilan begitu anak perempuan mengalami menstruasi dan anak laki-laki bisa membuahi ketika sudah memproduksi sperma.

Cari Tahu Juga :  Tips Dokter Mencegah Batuk Pilek pada Anak saat Cuaca Ekstrem

Beberapa anak ada yang ingin tahu tentang seks dan beberapa tidak. Tentu, kedua hal ini normal. Sebenarnya kita gak perlu nunggu anak mengajukan pertanyaan terkait seks, lho. Kita juga bisa memulai obrolan yang membahas tentang seksualitas. Dengan begini kita menciptakan suasana diskusi terbuka dan tanpa ada rasa canggung.

Harapannya anak bisa lebih terbuka dengan orang tuanya, sehingga kita bisa tahu apa yang sedang anak alami dan pikirkan lalu dapat mengarahkannya dengan baik. Dari pada anak kita bertanya pada orang lain dan mencoba karena penasaran yang justru membuatnya terjerumus pada kasus pelecehan.

Bagaimana Reaksinya, Parents?
+1
11
+1
1
+1
5
+1
1
+1
2
+1
+1

Tim Admin

Tim Admin Parentspedia

More Reading

Post navigation

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *